Rapl Linton dalam bukunya (The Study of Man) mengatakan bahwa L’esprit De Corps adalah The Development Of Consiouness, Afeeling Of Unity. Jiwa korsa adalah semangat keakraban dalam korps atau corps geest. Jiwa korsa adalah kesadaran korps, perasaan kesatuan, perasaan kekitaan, suatu kecintaan terhadap perhimpunan atau organisasi. Tetapi kebanggaan itu secara wajar, tidak berlebihan, tidak membabi buta.

Sedangkan Staplekamps jr. Le luit derat dalam tulisan berjudul corps geest (Demilitaire Spectator, 1952) mengemukakan bahwa pengertian jiwa korsa terdiri dari faktor – faktor :

  • Rasa hormat, yaitu: rasa hormat pribadi dan rasa hormat pada organisasi/korps.
  • Setia, yaitu; setia kepada sumpah, janji dan tradisi kesatuan serta kawan – kawan satu korps.
  • Kesadaran, terutama kesadaran bersama, bangga untuk menjadi anggota korps.

Tidak mementingkan diri sendiri dan siap berkorban untuk kepentingan yang lebih besar. Jiwa korsa yang kuat tidak mudah padam selama didalam korps. Di dalam jiwa korsa terkandung di dalamnya loyalitas, merasa ikut memiliki, merasa bertanggung jawab, ingin mengikuti pasang surut serta perkembangan korps-nya. Seorang yang memiliki jiwa korsa tinggi pasti penuh inisiatif, tetapi tahu akan kedudukan, wewenang dan tugas-tugasnya.
Jiwa korsa yang murni dan sejati akan menimbulkan sikap terbuka menerima saran dan kritik, tidak membela kesalahan tetapi justru mengusahakan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya. Mau menegur atau memperbaiki sesama warga korps yang berbuat tidak baik dan bukan menutupi kesalahanya, dan berani mawas diri. Dan mengenai loyalitas perlu diartikan lebih luas disamping kepada korps, loyalitas mengandung pengertian pula bahwa apa yang diperbuat harus memberikan manfaat atau kebaikan dimanapun ia berada.

Untuk membina dan memelihara moral tinggi dan semangat korps, ada tulisan dari Dr. Willem A.cohen yang memesankan kepada atasanya: “beri kesempatan orang lain berprestasi,bersikap riang gembira, ketahuilah apa yang terjadi dan ambilah tindakan, berikan teladan pribadi, pertahankan integritas pribadi, binalah saling percaya dan pusatkan perhatian pada sumbangan bukan perolehan pribadi dan doronglah setiap orang berbuat sama”.

Jiwa korsa sangatlah penting dan perlu dipelihara, namun harus secara wajar, tidak berlebihan, dan tidak dalam arti sempit. Dalam jiwa korsa harus diwaspadai bibit-bibit chauvinisme yang merupakan kecintaan atau solidaritas yang tidak proporsional. Pedoman yang perlu dimainkan atara lain “berikan semua yang bisa kau berikan” dan bukan “dapatkan semua yang bisa kau dapat”.

DSC03901